Tohari Servis Elektronika

Menerima segala macam servis Elektronika dan Elektrik seperti Radio, TV, Monitor, Pemancar FM, VCD Player, DVD Player, Magic jar/com, Sterika, Kipas angin, Dinamo dll. Yang beralamat di Desa Sekarbagus - Kecamatan Sugio - Kabupaten Lamongan - Jawa Timur - Indonesia.

Servis Menu Code

Hitachi
Press and hold the {MENU} button on the TV.
* Then press the {MENU} {8} {SELECT} buttons on the remote.
* To exit, press the {MENU} button on the TV or
the {EXIT} button on the remote control.

JVC:
Turn the TV on.
Using the remote control:

- Press the {INFO} buttons at the same time.
- The Service Menu will be displayed

- Use the number keys to select the category.
- Use the {VOL+} {VOL-} buttons to enter the category.
NOTE: Some models don’t have category selection.
- Use the {CH+} {CH-) buttons to select item to be adjusted.
- Use the {VOL+} {VOL-} buttons to change values.
- Press the {INFORMATION} button to exit.

Mitsubishi
# Using the remote control press:
{MENU} {0} {3} {5} {3} buttons.
{MENU} {0} {3} {5} {7} buttons.

# Then use {VIDEO} or {AUDIO} buttons to enter two different groups of adjustments.
# {VIDEO} and {AUDIO} steps along through the adjustments, and {+} {-} does the adjusting.
# Press the {ENTER} button to save the change.
# Press the {MENU} button twice to exit service menu

Panasonic
* Hold down the {VOL -} button ON THE PLASMA TV.
* Press the {RECALL} button 3 times on the remote.
* The Service Menu will be displayed.
* Use {1} {2} on remote to navigate main menu items.
* Use {3} {4} on remote to navigate sub-menu items.
* Use {VOL+} {VOL -} on remote to change item value.
* Write down all values before changing
Once a value is changed, THE CHANGE IS MADE.
* Power off to exit service mode and save.

Philips
# Press {0} {6} {2} {5} {9} {7} {INFO+} on the remote.
or
# Press {0} {6} {2} {5} {9} {7} {STATUS} on the remote.
or
# Press {0} {6} {2} {5} {9} {7} {MENU} on the remote.

# Turn the TV off to exit the Service Menu.

Pioneer
Power Down at the panel.
* Hold down {INPUT} buttons on the panel.
* Turn on the Plasma at the panel.
* The service menu will come up.
* Scroll down using the arrow keys.
* To exit, power it down.

RCA
* Turn the TV off.
* Press simultaneously the {MENU} {VOL -} {CH -} buttons for about 8-10 seconds.
* The TV will turn on with the Service Menu displayed.
* Press the {POWER} button to exit.

Samsung
# Turn on the TV on and select the input that you want to adjust.
# Turn the display off.

# In quick sequence on the remote press:
{MUTE} {1} {8} {2} {POWER} buttons.

# The TV will turn On with the Service Menu displayed.
ADJUSTMENT – TEST PATTERN – SET OPTION BYTE – FACTORY RESET

# Select the function and use the {VOL+} button to enter.
# Save settings and exit by pushing {MUTE} twice then {POWER}.

Sanyo
* Unplug the power cable.
* Press and hold the {MUTE} button on the remote control while plugging the power cable back into the outlet.
* Keep pressing the {MUTE} button until the TV powers on with the Service Menu displayed.
* Use the {CH+} {CH-} buttons to select menus.
* Use the {VOL+} {VOL -} buttons to change settings.
* Some menus might have sub-addresses. Use the numeric buttons {0} to {7} to adjust sub-item data.
* Press the {MENU} button or turn the TV off to exit.

Sharp
* Unplug the TV
* Press and hold the {VOL -} buttons.
* While holding the above buttons, plug in the TV.
* The TV will turn on with the Service Menu displayed.

* There are 5 category menus:
Deflection – Signal – Feature – Fix Value – EEPROM
* Use {CH+} {CH -} buttons to select a category.
Note: Not all models will have 5 categories.
Some will jump to ‘Signal’ category.

* Use {VOL+} to enter the category.
* Use {CH+} {CH -} buttons to select the item to be adjusted.
* Use {VOL+} {VOL -} buttons to adjust the value.
* Turn the set off to exit the Service Menu.

Sony
# Using the remote control:
# Turn the TV off.
# Press {DISPLAY} {5} {VOL+} {POWER ON} buttons.
or
Press {DISPLAY} {5} {POWER ON} buttons.
# The Service Menu will be displayed.
# Use numbers {1} and {4} to select the item to adjust.
# Use numbers {3} and {6} to adjust the value of the data.
# Press {MUTE} then {ENTER} to save new settings.
# The words “WRITE” in red will show up in the upper right corner if saved.
# Turn the TV off to exit the service menu.

Sylvania
* Press {0} {6} {2} {5} {9} {7} {INFO+} on the remote.
or
* Press {0} {6} {2} {5} {9} {7} {STATUS} on the remote.
or
* Press {0} {6} {2} {5} {9} {7} {MENU} on the remote.

* Turn the TV off to exit the Service Menu

Thomson
* With the TV in standby:
* Press and hold the {VOL -} buttons on the TV.
* Keep both buttons pressed until the TV turns On with the Service Menu displayed.
* To exit, turn the TV Off.

Toshiba
# Turn the TV on.
# Press the {MUTE} button three times on the remote.
# Press the {MUTE} button again on the remote and hold.
# Then press the {MENU} button on the TV’s front panel.
# Release both buttons
# There should be a letter “S” on the upper right of the screen.
# Press the {MENU} button on the TV’s front panel again.

# You are now in Service Menu.
# Use the {CH+} or {CH-} buttons to select the item.
# Use the {VOL+} and {VOL -} buttons to adjust the value.
# Turn the set off to exit the Service Menu.

Zenith

* Service Menu #1

Press and hold the {MENU} button on the remote and
the {MENU} button on the TV at the same time,
until the first Service Menu is displayed.

* Service Menu #2

Repeat the above sequence:
Press and hold the {MENU} button on the remote and
the {MENU} button on the TV at the same time,
until the second Service Menu is displayed.

Servis Mode TV Sharp Alexander

* Nyalakan TV
* Cabut kabel listrik TV, jangan di matikan memakai Remot/mati stanby.
* Tekan dan tahan VOL (-) dan (CH +) tombol depan TV.
* Saat menombol VOL (-) dan (CH +) di atas, pasang kembali kabel listrik TV itu.
* TV akan menyala dengan Layanan Menu

* Ada 5 kategori menu:
Defleksi – Musik – Fitur – Perbaiki Nilai – EEPROM
Gunakan (CH + CH -) tombol untuk memilih kategori.
Catatan : Tidak semua model akan ada 5 kategori.
Beberapa akan beralih ke ‘Sinyal’ kategori.

* Gunakan VOL (+) untuk memasukkan kategori.
Gunakan (CH + CH -) tombol untuk memilih item yang akan disesuaikan.
* Gunakan VOL + () (VOL -) tombol untuk menyesuaikan nilai.
* Balikkan menyalakan Layanan untuk keluar dari Menu

Semoga dapat dimengerti dan di fahami.

JENIS-JENIS SISTEM TELEVISI

Sistem pemancar televisi yang kita kenal di antaranya:

  1. NTSC (National Television System Committee)
  2. PAL (Phases Alternating Line)
  3. SECAM (Sequential Couleur a Memorie)
  4. PALB

NTSC digunakan di Amerika Serikat, sistem PAL di gunakan di Inggris, sistem SECAM digunakan di Perancis. Sementara itu, Indonesia sendiri menggunakan sistem PALB. Hal yang membedakan sistem tersebut adalah format gambar, jarak frekuensi pembawa dan pembawa suara.

Sistem Televisi Dasar di Dunia

Bagian - Bagian TV

Rangkaian Catu Daya (Power Supply)

Rangkaian berfungsi untuk mengubah arus AC menjadi DC yang selanjutnya didistribusikan ke seluruh rangkaian. Rangkaian catu daya dibatasi oleh garis putih pada PCB dan daerah di dalam kotak merah. Daerah di dalam garis putih adalah rangkaian input yang merupakan daerah tegangan tinggi (live area). Sementara itu, daerah di dalam kotak merah adalah output catu daya yang selanjutnya mendistribusikan tegangan DC ke seluruh rangkaian TV.



Rangkaian Penala (Tuner)

Rangkaian ini terdiri dari penguat frekuensi tinggi ( penguat HF ), pencampur (mixer), dan osilator lokal. Rangkaian penala berfungsi untuk menerima sinyal masuk (gelombang TV) dari antena dan mengubahnya menjadi sinyal frekuensi IF.



Rangkaian penguat IF (Intermediate Frequency)

Rangkaian ini berfungsi sebagai penguat sinyal hingga 1.000 kali. Sinyal output yang dihasilkan penala (tuner) merupakan sinyal yang lemah dan yang sangat tergantung pada pada sinyal pemancar, posisi penerima, dan bentang bentang alam. Rangkaian ini juga berguna untuk membuang gelombang lain yang tidak dibutuhkan dan meredam interferensi pelayanan gelombang pembawa suara yang mengganggu gambar.


Rangkaian Detektor Video

Rangkaian ini berfungsi sebagai pendeteksi sinyal video komposit yang keluar dari penguat IF gambar. Selain itu, rangkaian ini berfungsi pula sebagai peredam seluruh sinyal yang mengganggu karena apabila ada sinyal lain yang masuk akan mengakibatkan buruknya kualitas gambar. Salah satu sinyal yang di redam adalah sinyal suara.

Rangkaian Penguat Video

Rangkaian ini berfungsi sebagai penguat sinyal luminan yang berasal dari deteltor video sehingga dapat menjalankan layar kaca atau CRT (catode ray tube). Didalam rangkaian penguat video terdapat pula rangkaian ABL (automatic brightness level) atau pengatur kuat cahaya otomatis yang berfungsi untuk melindungi rangkaian tegangan tinggi dari tegangan muatan lebih yang disebabkan oleh kuat cahaya pada layar kaca.

Rangkaian AGC (Automatic Gain Control)

Rangkaian AGC berfungsi untuk mengatur penguatan input secara otomatis. Rangkaian ini akan menstabilkan sendiri input sinyal televisi yang berubah-ubah sehingga output yang dihasilkan menjadi konstan.

Rangkaian Defleksi Sinkronisasi

Rangkaian ini terdiri dari empat blok, yaitu rangkaian sinkronisasi, rangkaian defleksi vertikal, rangkaian defleksi horizontal, dan rangkaian pembangkit tegangan tinggi.

Rangkaian Audio

Suara yang kita dengar adalah hasil kerja dari rangkaian ini, sinyal pembawa IF suara akan dideteksi oleh modulator frekuensi (FM). Sebelumnya, sinyal ini dipisahkan dari sinyal pembawa gambar.



Osilator FM (88-108 MHz) dan Rangkian Booster

SWR Meter & Power Meter

Pada saluran transmisi yang tidak match selain gelombang datang mengalir pula gelombang pantul. Gelombang datang arahnya dari sumber ke beban (dari pemancar ke antena) sedangkan gelombang pantul dari arah yang sebaliknya (dari antena ke pemancar). Untuk mengukur daya gelombang-gelombang tersebut diperlukan Power Meter. Biasanya pada Power Meter terdapat dua skala, satu untuk daya datang dan satu lagi untuk daya pantul, skala untuk daya pantul lebih kecil dari skala daya datang.

SWR Meter (Standing Wave Ratio Meter – pengukur perbandingan gelombang tegak) digunakan untuk mengukur perbandingan gelombang datang dan gelombang pantul. Dengan kata lain SWR Meter digunakan untuk mengukur seberapa match sebuah sumber dengan beban. Prinsip kerja SWR Meter didasari Power Meter. Jika pada suatu pengukuran hanya terdapat Power Meter maka SWR dapat dihitung dari daya datang (Pf) dan daya pantul (Pr) dengan rumus sebagai berikut :

SWR = (ÖPf + ÖPr)/(ÖPf - ÖPr)

Dari rumus tersebut, pada keadaan match (Pr = 0) akan didapatkan SWR = 1. Untuk keadaan yang tidak match akan didapatkan SWR > 1. Untuk keadaan yang paling buruk dimana semua daya datang dipantulkan kembali (Pf = Pr) akan didapatkan SWR = tak hingga.

Dummy Load

Agar daya bisa dipancarkan semaksimal mungkin, impedansi output dari penguat daya tingkat akhir harus sama dengan impedansi karakteristik saluran transmisi dan impedansi dari antena. Untuk itu diperlukan penalaan pada matching network untuk menyamakan impedansi.

Impedansi dari antena sangat tergantung pada frekuensi. Sedangkan impendasi dari saluran transmisi sama dengan impedansi karakteristik saluran jika panjang saluran transmisi tersebut adalah tak terhingga. Sehingga antena dan saluran transmisi tidak dapat dipakai sebagai acuan untuk menala matching network. Sebagai gantinya diperlukan sebuah beban yang diketahui impedansinya dengan pasti sebagai acuan (Dummy Load), yang harus bebas dari pengaruh frekuensi dan dapat menangani pembuangan daya yang besar (merubah semua daya datang menjadi panas). Impedansi Dummy Load biasanya 50 atau 75 Ohm. Induktor dan kapasitor adalah komponen yang memiliki impedansi yang tergantung frekuensi. Resistor murni tidak terpengaruh frekuensi, meskipun pada kenyataannya resistor tidak hanya bersifat resistif tetapi mempunyai sifat induktif dan kapasitif parasit meskipun kecil.

Dummy Load dapat dibuat sendiri dengan memasang paralel beberapa resistor sehingga didapatkan resistansi dan daya yang diinginkan. Resistor karbon dan resistor film mempunyai induktor parasit yang minimal sehingga banyak dipakai untuk membuat dummy load. Resistor karbon harganya lebih murah dan bisa didapatkan dengan daya lebih besar dibandingkan resistor film.

Memparalelkan beberapa resistor, selain untuk mendapatkan daya besar, dimaksud pula memperkecil induktansi liar dari resistor-resistor tersebut. Sebagai contoh dapat dipakai resistor karbon 300 Ohm / 2 Watt sebayak 6 biji yang dibubungkan secara paralel, untuk mendapatkan Dummy Load dengan daya 12 Watt dan impedansi 50 Ohm (gambar 1).

Gambar 1. Skema Dummy Load

Frekuensi Counter

Frekuensi Counter adalah sebuah alat untuk mengetahui besarnya frekuensi dari sebuah sinyal. Frekuensi Counter sifatnya hanya tambahan dan dapat digantikan dengan radio penerima biasa. Untuk hasil yang lebih baik dapat dipakai radio dengan tuning digital.

Pemancar FM 12 Watt

Pemancar FM yang dibahas pada artikel ini adalah modifikasi dari rangkaian Pemancar FM yang ada di pasaran (tipe S-083 dari Saturn). Rangkaian S-083 hanya menghasilkan daya kurang lebih 1 Watt. Dengan sedikit modifikasi, penyederhanaan dan penambahan booster akan didapatkan daya akhir 12 Watt. Rangkaian S-083 terdiri atas 3 bagian, yaknik bagian osilator, Penyangga tingkat pertama (Buffer 1) dan Penyangga tingkat kedua (buffer 2), lihat di Gambar 2 (Komponen yang diberi tanda * adalah bagian yang dimodifikasi ).

Setelah dicoba, osilator S-083 hasilnya cukup memuaskan, selain stabil osilator tersebut menghasilkan sinyal yang kuat. Karena itu bagian osilator dipakai tanpa modifikasi. Transistor di Tingkat penyangga pertama (Buffer 1) yang semula menggunakan C2053, diganti dengan transistor C930, tipe dengan harga yang jauh lebih murah dan mudah diperoleh dipasaran. Untuk keperluan itu nilai R6 diganti menjadi 10K, untuk memberi bias yang sesuai bagi transistor C930.

Kapasitor 33pF pada kaki kolektor transistor penyangga diganti dengan trimmer C8 bernilai 5-60pF untuk mempermudah penalaan. Transistor di Tingkat penyangga kedua (Buffer 2) yang semula C710 diganti pula dengan C930, dan kapastor pada kolektornya juga diganti dengan trimmer C11 bernilai 5-60 pF. Pada keluaran tingkat kedua diberi tambahan induktor dan kapasitor yang berfungsi sebagai penyesuai impedansi, sehingga Impedansi keluaran dari penyangga tingkat akhir yang kurang lebih 380 Ohm dirubah menjadi 50 Ohm.


Gambar 2. Skema rangkaian Exciter

Saat merakit sebaiknya jangan tergesa-gesa dengan mengerjakan langsung secara
keseluruhan, tapi kerjakan tiap bagian agar adanya kesalahan dapat diketahui lebih awal.

Bagian pertama yang dikerjakan adalah osilator, setelah selesai dirakit dapat langsung dicoba, dengan cara menyalakan radio FM pada gelombang yang kosong dan atur volume radio sehingga suara desis terdengar jelas (akan lebih mudah jika dipakai radio yang mempunyai indikator tuning). Putar inti dari koker (L1) kekanan sampai maksimal. (Dengan memutar koker kekanan frekuensi yang dihasilkan osilator makin rendah.) Nyalakan pemancar FM, putar inti koker kekiri sampai desis pada radio FM hilang atau sampai indikator tuning menyala. Jika didapatkan sinyal yang kuat dan stabil, osilator dari pemancar ini telah bekerja dengan baik.

Bagian selanjutnya dapat mulai dirakit, setelah selesai dirakit, hubungkan rangkaian exciter (Gambar 2) seperti diagram Gambar3. Nyalakan catu daya dan putar kedua trimmer (C8 dan C11) pada penyangga secara bergantian sampai didapatkan daya paling besar dan SWR paling kecil. Kalau rangkaian exciter bekerja dengan baik, akan didapatkan daya kurang lebih 0,25 Watt.


Gambar 3. Diagram blok pengetesan exciter

Sampai tahap ini exciter sudah siap pakai. Untuk mendapatkan daya yang lebih besar lagi dapat dapat ditambahkan rangkaian booster 12 Watt, sehingga akan jarak jangkauan pancaran meningkat sampai 7 kali lipat.


Gambar 4. Skema rangkaian booster

Rangkaian booster 12 Watt pada Gambar4, terdiri dari dua tingkat penguat transistor yang masing-masing bekerja pada kelas C, masomg-masing input dan output penguat transistor ini diberi rangkaian penyesuai impedansi.

Penguatan tingkat pertama memakai transistor C1970. Rangkaian Penguatan ini mempunyai penguatan daya 9,2dB (8 kali), sehingga dari exciter berdaya 0,25 W seharusnya bisa dihasilkan daya 2 W. Pada kenyataannya dari keluaran penguatan tingkat pertama ini hanya menghasilkan daya 1,75 Watt, hal ini disebabkan adanya kerugian dari rangkaian matching network.

Penguatan tingkat kedua memakai transistor C1971. Rangkaian Penguat ini mempunyai penguatan daya 10dB (10 kali). Sehingga daya dari tingkat pertama yang 1,75 W bisa diperkuat menjadi 17,5 W. Pada kenyataannya daya dari penguatan tingkat kedua hanya mencapai 12,5 Watt. Hal ini disebabkan adanya kerugian dari rangkaian matching network dan keterbatasan dari transistor C1971.

Karena panas yang dihasilkan kedua transistor cukup besar maka jangan lupa memasang pendinginan yang cukup.

Setelah booster selesai dirangkai selanjutnya booster dapat dicoba dan ditala, dengan merangkai exciter, booster, SWR & Power Meter dan Dummy Load seperti Gambar 5. Sebelum catu daya dinyalakan, semua trimmer pada booster diputar pada posisi tengah. Pastikan catu daya yang dipakai dapat memberikan arus lebih dari 3 Ampere. Amati power meter. Power meter seharusnya menunjukkan daya beberapa watt. Putar trimmer pada booster dimulai dari bagian input sampai didapatkan daya paling besar. Ulangi beberapa kali. Seharusnya akan didapatkan daya sampai 12W.


Gambar 5. Diagram blok pengetesan booster

Dari pengukuran didapatkan kebutuhan arus adalah 2,2 Ampere dan daya maksimal yang dapat dicapai adalah 12,5 Watt. Daya yang terlalu besar tentu saja akan memperpendek umur transistor tingkat akhir. Untuk itu disarankan untuk menurunkan daya keluaran dengan menurunkan tegangan supply menjadi 12 Volt.

Prinsip Kerja Optocoupler

Bagi rekan rekan teknisi yang sudah berpengalaman mungkin sudah tidak asing lagi dengan komponen yang satu ini. Optocoupler merupakan komponen yang berfungsi untuk mengatur feedback yang masuk ke STR / Transistor / IC power pada bagian power supply.

Optocoupler
ini biasanya digunakan pada TV yang belum terlalu lama diproduksi.

Optocoupler ini juga berperan dalam proses start up TV serta juga berfungsi sebagai penyetabil tegangan output power supply switching. Tapi saya yakin kebanyakan teknisi juga banyak yang tidak mengerti bagaimana cara kerja dari Optocoupler.


Optocoupler adalah suatu komponen penghubung (coupling) yang bekerja berdasarkan picu cahaya optic. Optocoupler terdiri dari dua bagian yaitu :
  1. Pada transmitter dibangun dari sebuah LED infra merah. Jika dibandingkan dengan menggunakan LED biasa, LED infra merah memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap sinyal tampak. Cahaya yang dipancarkan oleh LED infra merah tidak terlihat oleh mata telanjang.
  2. Pada bagian receiver dibangun dengan dasar komponen Photodiode. Photodiode merupakan suatu transistor yang peka terhadap tenaga cahaya. Suatu sumber cahaya menghasilkan energi panas, begitu pula dengan spektrum infra merah. Karena spekrum infra mempunyai efek panas yang lebih besar dari cahaya tampak, maka Photodiode lebih peka untuk menangkap radiasi dari sinar infra merah.

Ditinjau dari penggunaanya, fisik optocoupler dapat berbentuk bermacam-macam. Bila hanya digunakan untuk mengisolasi level tegangan atau data pada sisi transmitter dan sisi receiver, maka optocoupler ini biasanya dibuat dalam bentuk solid (tidak ada ruang antara LED dan Photodiode). Sehingga sinyal listrik yang ada pada input dan output akan terisolasi. Dengan kata lain optocoupler ini digunakan sebagai optoisolator jenis IC.

Prinsip kerja dari optocoupler adalah :

  • Jika antara Photodiode dan LED terhalang maka Photodiode tersebut akan off sehingga output dari kolektor akan berlogika high.
  • Sebaliknya jika antara Photodiode dan LED tidak terhalang maka Photodiode dan LED tidak terhalang maka Photodiode tersebut akan on sehingga output-nya akan berlogika low.
Lalu bagaimana proses kerjanya pada rangkaian TV!!!
Sekarang coba kita perhatikan pada salah satu contoh rangkaian power supply di bawah ini


Bisa kita perhatikan bahwa optocoupler merupakan penghubung / perantara IC STR dan rangkaian MICOM melalui transistor pada jalur power.

Cara kerjanya sederhana, pada saat TV dalam keadaan standby dan kita tekan power pada remote / TV maka pada pin power MICOM akan memberikan sinyal ke transistor lalu ke KA 431 ( semacam diode zener 3 kaki) untuk menyalakan optocoupler dan kemudian optocoupler akan men-drive pin feedback pada STR sehingga STR memulai proses switching dan kemudian TV pun menyala normal. Ini adalah proses pada saat menyalakan TV.

Tidak bisa saya sebutkan disini berapa tepatnya tegangan yang mengalir karena penerapan pada beberapa merk Tv kemungkinan berbeda tapi secara garis besar prinsipnya sama.

Lalu coba kita perhatikan lagi ternyata pin 1 pada optocoupler juga dikoneksikan dengan output transformator switching sehingga pada saat tegangan output switching berubah tegangan yang mengalir ke photodiode pada optocoupler juga akan berubah seiring dengan perubahan output switching yang selanjutnya akan berubah pula cahaya yang diberikan ke receiver di optocoupler dan tegangan yang mengalir ke F/B pada STR akan berubah sebanding dengan perubahan pada tegangan output power supply. Dan untuk selanjutnya F/B pada STR inilah yang kemudian menstabilkan tegangan output pada kisaran 125V ( tergantung merk dan ukuran TV).

Ini adalah proses pada saat menyetabilkan tegangan output menggunakan optocoupler.

Lalu apa saja kerusakan yang mungkin timbul karena kerusakan komponen ini, berdasarkan pengalaman penulis kerusakan yang mungkin timbul adalah TV matot ( mati total ), TV stand by, gambar menyempit, transformator flyback bunyi. Untuk dua kerusakan terakhir yang saya sebutkan agak jarang.

LINK KAWAN

DOWNLOAD EBOOK GRATIS

Pengikut